jangan tanya
TUAL, Maluku Tenggara punya pantai yang bisa bikin lo terpana kayak pas nonton sinetron. Lonely Planet aja mengklaim Pantai Ngurbloat (salah satu pantai di Tual) sebagai salah satu pantai dengan pasir terhalus di dunia. Mirip-mirip bubuk dancow gitu deh halusnya.
ga masuk akal bagusnya. Ayok nabung
Bendera Setengah Tiang.
Memperingati tragedi 30 September 1965, di mana sembilan putra terbaik bangsa wafat demi mempertahankan ideologi Pancasila di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
SUBMISSION: theyanirma. Thank you.
Murid peserta Ujian Nasional tingkat sekolah dasar tahun 2011 menyeberangi Sungai Ciawi sambil digendong sukarelawan menuju sekolah di Kp. Peer, Desa Mekarsari, Kec. Pameungpeuk, Kab. Garut, Selasa (10/5). Jembatan gantung yang terputus akibat terjangan banjir bandang pada Jumat (6/5) lalu menyebabkan mereka harus menyeberangi sungai sambil mempertaruhkan nyawa agar bisa mengikuti ujian.
sumber: Pikiran Rakyat 11/05/2011
Demi selembar ijazah, risiko hanyut terbawa arus pun diambil.
(Source: beingindonesian)
Ciptaan : W.R. Supratman
Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanyaIbu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdekaWahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi IndonesiaIbu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se IndonesiaIbu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanyaWahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi IndonesiaIbu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu
Se-IndonesiaIbu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanyaWahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Itulah lagu wajib bagi kita, Bangsa Indonesia. Ibu emansipasi Indonesia = R.A. Kartini. Tak hanya lagu, gelar pahlawan, bahkan satu hari dalam satu tahun diberikan untuk memperingatinya. Kali ini saya akan coba menulis kembali fakta tentang ibu Kartini.

“Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” Harsja W. Bachtiar.
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.
Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.
Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”
Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.Pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).
Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata.
Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
dibawah ini foto ibu Dewi Sartika dan Rohana kudus
![]()
dari :
http://fauziamri.wordpress.com/2009/04/26/mengapa-harus-kartini-menguak-fakta-di-balik-hari-kartini/
http://fariedrj.blogspot.com/2011/02/benarkah-ra-kartini-pelopor-emansipasi.html
google.com
Dan bagi saya pribadi, Ibu saya lebih dari semua ibu diatas. Happy Kartini’s day :)
Kampanye UTS bersih KMKL ITB
“9 dari 10 wanita memilih pria yang jujur”
dari aseptia
via @aseptia
(Source: fuckyeahmahasiswa)